Pasar Beringharjo Dulunya Adalah Hutan yang Angker – Pasar Beringharjo adalah pasar bersama dengan nilai historis dan filosofis yang tidak dapat dilepas dari Keraton Yogyakarta. Beringharjo resmikan arti harafiah, yakni Hutan pohon beringin yang diharapkan memberikan kesejahteraan bagi warga Yogyakarta.
Pasar Beringharjo Dulunya Adalah Hutan yang Angker
Pasar Beringharjo terdapat di lagi tengah kawasan Malioboro, Yogyakarta. Banyak sekali type barang yang dijual di Pasar Beringharjo. seperti sembako, barang-barang antik, pakaian makanan maupun minuman tradisional, dan lain-lain.
Pasar Beringharjo mulanya adalah sebuah Hutan beringin yang terkesan angker. sedang Sejalan bersama berdirinya Keraton Yogyakarta antara tahun 1756, sesudah dua th. lantas tepatnya pada th. 1758, lokasi ini jadi berkembang sebagai media transaksi jual membeli sampai kala ini.
Pada tahun 1925 Keraton Yogyakarta memerintahkan sebuah perusahaan beton Hindia Belanda untuk buat los-los pasar agar lebih representif dan membuat nyaman penduduk didalam berdagang. pada mulanya 11 los pasar selesai, bulan berikutnya dibangun secara bertahap dan menjadi besar sampai kini.
Nama Beringharjo membuka istilah wilayah yang pada awalnya Hutan beringin dan dikehendaki mampu merasa poros kesejahteraan bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya, sesudah itu diresmikan saat bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 24 maret 1925. disaat ini bangunan Pasar Beringharjo membuka dua bangunan barat dan timur yang dipisahkan sebuah berjalan menuju ke kawasan Ketandan.
Pasar Beringharjo membuka nilai historis dan filosofis dengan Kraton Yogyakarta gara-gara sudah lewat tiga fase, yaitu masa kerajaan, penjajahan, dan kemerdekaan. Pembangunan Pasar Beringharjo merupakan salah satu bagian dari rancang bangun pola tata kota Kesultanan Yogyakarta yang disebut Catur Tunggal. Pola tata kota ini mencakup empat perihal yakni keraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai Ruang publik, masjid sebagai media ibadah, dan pasar sebagai pusat transaksi ekonomi.
Ciri khas bangunan Pasar Beringharjo bakal diamati pada interior bangunan yang merupakan perpaduan pada arsitektur kolonial Belanda dan Jawa. Secara lazim pasar ini terdiri dari dua bangunan yang terpisah yaitu bagian barat dan jatah timur.
Bangunan utama di pembagian barat terdiri dari dua lantai, adapun bangunan yang ke dua di proporsi timur terdiri berasal dari tiga lantai. Pintu masuk utama pasar ini terdapat di jatah barat, pas menghadap jalan Malioboro. Pintu gerbang utama ini merupakan bangunan dengan ciri khas kolonial bertuliskan Pasar Beringharjo bersama aksara Latin dan aksara Jawa.
Mahasiswa Program belajar Arsitektur kampus Atma Jaya Yogyakarta, Emmelia Tricia Herliana didalam makalahnya yang berjudul Preserving Javanese Culture through Retail Activities in Pasar Beringharjo, Yogyakarta menemukan bahwa signifikasi budaya pada Pasar Beringharjo terdiri berasal dari tiga faktor yaitu 1) peristiwa kosmologi, dan struktur Yogyakarta sebelumnya 2) peran Yogyakarta sebagai pusat perdagangan; dan 3) lingkungan cagar budaya yang mendorong pasar sebagai tujuan wisata.
“Terlepas berasal dari ketiga segi tersebut aktivitas ritel mencerminkan lima prinsip budaya Jawa: 1) menjadi senang dan tidak menyesal (narimo ing pandum), 2) kerja sama juga timbal balik (gotong royong), 3) menghargai sesepuh (ngajeni), 4) sopan (andap asor), dan 5) menjunjung orang lain,” tulis Emmelia dalam makalahnya.
Pasar Beringharjo tetap terasa pilihan utama bagi masyarakat Yogyakarta dikala berbelanja. Di tengah kepungan mal yang mencukupi Yogyakarta, Pasar Beringharjo tidak pernah tidur di dalam perkembangan zaman. bahkan Pasar Beringharjo tetap terus hidup dari pagi hingga malam untuk memberikan diri bahwa Pasar Beringharjo tidak bakal kalah dengan gempuran mall di Yogyakarta.